Johan Andreas Santoso - Pemimpin Cabang
Salam hangat dalam kasih Kristus,
Sukacita menyaksikan jejak penyertaan Tuhan dalam pelayanan di Yogyakarta terus berlanjut hingga bulan April lalu. Bulan itu menjadi istimewa karena pelayanan siswa Persekutuan Siswa Kristen Yogyakarta (PSKY) memperingati hari lahirnya: 48 tahun sejak persekutuan perdana antara siswa lintas sekolah pertama kali diadakan. Lebih spesial lagi, di bulan yang sama saya mendapat kesempatan berjumpa langsung dengan Pak Rene, salah satu siswa yang menjadi pelopor berdirinya persekutuan tersebut.
Dari beliau, saya mendapat kesempatan berharga mendengar langsung kisah di balik awal mula itu semua: bagaimana Tuhan menggerakkan hati para siswa, menggelisahkan mereka, hingga mereka saling berbagi beban dan bersama-sama memberanikan diri untuk mengambil langkah kecil pertama. Tak pernah terbayangkan oleh mereka bahwa langkah kecil itu akan membawa perjalanan pelayanan sejauh ini. Tuhan yang memulai, Tuhan pula yang memelihara. Sebagai salah satu buah pelayanan siswa yang telah lama terlibat di dalamnya, saya sungguh bersyukur dapat "menyaksikan" kisah pekerjaan Tuhan di balik layar ini.
Serupa dengan itu, April ditutup dengan sukacita tersendiri: saya turut menjadi saksi perjuangan para mahasiswa adik-adik KTB dan pengurus pelayanan dalam mempersiapkan Kamp KTB 2026. Dari dekat, saya menyaksikan proses pembentukan dan pertumbuhan mereka selama masa persiapan itu. Kami kemudian memulai bulan Mei dengan tiga hari Kamp KTB yang penuh makna. Di sana pula, saya berkesempatan melihat para kakak yang pernah menjadi peserta Kamp KTB pertama 29 tahun yang lalu, kini hadir kembali untuk melayani di kamp yang sama.
Saat membawakan renungan di sesi penutupan, saya mengajak para peserta merenungkan undangan Tuhan dari Yosua 24:15, sebuah pesan bagi generasi yang lebih muda untuk memilih kepada siapa mereka akan mengabdikan hidup, sementara para murid yang lebih senior menegaskan kembali komitmen mereka kepada Tuhan. Kamp ditutup dengan satu pesan yang membekas: keselamatan adalah anugerah, namun kemuridan adalah pilihan yang harus dibuat setiap hari.
Bulan April telah menjadi bulan di mana saya diizinkan untuk menyaksikan orang-orang yang telah Tuhan gerakkan dan pakai untuk memulai sesuatu yang buah dan dampaknya terus ada jauh melampaui waktu mereka sendiri. Saya juga kembali diingatkan pada dua hal yang membuat sebuah pelayanan dapat bertahan lama: topangan dan pemeliharaan Tuhan sebagai pemilik visi, serta kehadiran para murid yang terus memilih untuk setia dari generasi ke generasi.
Hal-hal inilah yang menjadi kerangka doa dan harapan saya menjelang perayaan syukur 50 tahun pelayanan Perkantas Yogyakarta yang akan berlangsung pada akhir Juni mendatang.
Pokok Doa
Terima kasih atas doa dan dukungan Kakak dan Rekan sekalian.
Priscilla Rosty Sukmono - Staf Pelayanan Siswa
Puji Tuhan saya telah menyelesaikan seluruh rangkaian ujian dan persyaratan kelulusan saya di bulan April ini. Ketika mengingat lagi ke belakang, saya sangat merasakan pertolongan dan topangan dari Tuhan dan orang-orang yang Ia hadirkan sehingga saya bisa menyelesaikan studi ini.
Saat ini saya sedang di masa tunggu untuk yudisium dan sumpah profesi Psikolog yang kemungkinan akan diadakan di bulan Juli 2026. Maka di masa jeda ini saya sedang mentransisikan diri untuk kembali ke Jogja.
Menatap hal di depan, masih banyak hal yang belum jelas namun sudah terasa "beban" yang akan dipikul akan lumayan berat. Doakan agar saya bisa menjalani masa transisi, re-entry, dan re-orientasi pelayanan kembali dengan baik. Doakan agar saya makin menangkap kerinduan Allah secara spesifik untuk bisa saya kerjakan di ladang Jogja.
Sekali lagi, terima kasih sudah mendukung saya sampai sejauh ini. Terkhusus di masa studi saya selama 1 tahun 9 bulan di Bandung. Bersyukur untuk setiap pengalaman yang memperluas dan memperdalam perspektif dan kapasitas. Terpujilah Allah!
Nitamansari M Damanik - Staf Pelayanan Mahasiswa
Sepanjang April, kami di pelayanan mahasiswa sepakat bahwa fokus kami bersama untuk mengerjakan persiapan Kamp KTB Regional Jateng-DIY, yang mana Yogyakarta menjadi tuan rumah. Sehingga saya pun lebih banyak peran untuk mendampingi adik-adik panitia dalam mempersiapkan bagian ini. Saya bersyukur menyaksikan antusias dan semangat panitia, bahkan persiapan peserta kontingen Yogyakarta ini ikut membangkitkan semangat pemuridan saya, penampakan yang begitu memberi pengharapan bahwa pemuridan di kampus akan terus ada dan harus sama-sama diperjuangkan.
Menjelang kamp, saya cuti dan pulang kampung untuk menghadiri acara keluarga. Berjarak dari tugas pendampingan memaksa saya untuk belajar satu hal penting, yaitu melepaskan kendali. Saya belajar untuk tidak khawatir, tetapi justru mempercayakan tanggung jawab kepada rekan pelayanan serta adik- adik panitia. Melalui proses ini, Tuhan membentuk saya untuk belajar berbagi peran dengan orang lain, menghargai cara kerja yang berbeda dari ekspektasi saya, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus berjalan persis sama seperti gambaran apa yang saya bayangkan. Saya begitu mensyukuri proses ini. Mohon berdoa, agar pembelajaran ini terus menguatkan dan mengingatkan bahwa saya tidak pernah berjalan sendiri. Doakan juga dinamika saya bersama adik-adik, kiranya kami semakin saling belajar, bertumbuh, dan dibentuk melalui setiap proses yang kami jalani bersama.
Dwi Krisnawati - Asisten Staf Pelayanan Siswa
Bulan ini Tuhan kembali meneguhkan panggilan pelayanan saya melalui perenungan lagu Pekerja Kristus yang Mulia.
PEKERJA KRISTUS YANG MULIA
Telah lama kucari2 langkah hidup yang lebih pasti
Hidup penuh kemenangan setiap hari
Suatu saat Yesus panggilku menjadi pekerja
Melayani jadi saksi bagi Dia
Bukan sembarang pekerja
Yesusku luar biasa
Dia Raja sgala raja
Memanggilku menuai ladangNya
Hanya anugrah semata
Aku dipakai olehNya
Sungguh amat istimewa
Menjadi pekerja Kristus yang mulia
Lagu tersebut menolong saya melihat kembali bahwa pelayanan bukan terutama tentang apa yang saya kerjakan bagi Tuhan, melainkan tentang kesetiaan menjawab panggilanNya untuk hidup sebagai pekerja di ladangNya. Panggilan ini bukan lahir dari kemampuan pribadi, tetapi dari anugerah Allah yang terlebih dahulu memanggil dan mempercayakan pelayanan kepada manusia yang terbatas.
Memasuki dan melewati bulan April, saya bersyukur atas kesempatan membersamai pelayanan siswa di tengah adik-adik TPSY yang sedang ada dalam masa ujian. Dalam proses tersebut saya kembali belajar bahwa pelayanan pastoral seringkali hadir melalui kesetiaan dalam hal-hal sederhana: hadir, mendengar, dan berjalan bersama mereka dalam musim kehidupan yang nyata. Tuhan mengingatkan saya bahwa pertumbuhan rohani tidak selalu terjadi melalui momen besar, tetapi melalui pendampingan yang konsisten dan relasi yang dibangun dengan sabar.
Kesempatan visitasi yang Tuhan ijinkan juga menjadi sarana refleksi pribadi. Pertemuan dengan seorang adik siswa meneguhkan kembali bahwa pelayanan siswa adalah ruang di mana Allah sedang bekerja lebih dahulu. Saya hanya diundang untuk ikut serta dalam karyaNya. Kerinduan untuk terus membuka diri bagi jiwa-jiwa yang Tuhan hadirkan menjadi doa saya, agar pelayanan tidak digerakkan oleh agenda pribadi, melainkan oleh kepekaan terhadap karya Roh Kudus.
Saya juga bersyukur boleh mendampingi TPSY serta mengambil bagian dalam Persekutuan Syukur Pelayanan Siswa ke-48. Melalui doa, kesaksian, dan ucapan syukur yang dibagikan, saya melihat kembali kesetiaan Tuhan memelihara pelayanan siswa lintas generasi. Bersama sembilan anak TPSY, Tuhan mempercayakan pelayanan siswa se kota Yogyakarta kepada kami. Kepercayaan ini sekaligus menjadi panggilan untuk terus belajar melayani sebagai komunitas pekerja Kristus yang saling menopang, bertumbuh, dan bergantung pada anugerah-Nya.
Di tengah berbagai dinamika pelayanan, saya semakin disadarkan bahwa keberlangsungan pelayanan bukan ditopang oleh kekuatan manusia, melainkan oleh kesetiaan Tuhan sendiri atas karyaNya. Kiranya Tuhan menolong saya untuk terus memelihara spiritualitas seorang pekerja Kristus, hidup dalam ketaatan, kerendahan hati, dan kesetiaan yang tekun, sehingga pelayanan ini tetap berpusat pada Kristus dan menjadi sarana Allah membentuk generasi siswa bagi kemuliaanNya.
Pokok Doa :
Mertin Novalista Ndapamerang - Asisten Staf Pelayanan Mahasiswa
Selama bulan April hingga awal Mei yang baru saja berlalu. Bulan tersebut merupakan masa persiapan Kamp KTB yang cukup padat, namun penuh dengan pembelajaran baik.
Selama masa persiapan, saya bersyukur dapat menjalankan peran sebagai panitia pengarah dengan baik. Saya juga diberi kepercayaan untuk mendampingi panitia pelaksana, khususnya divisi acara, sekaligus menyelesaikan materi untuk kapsel CPKTB. Semua proses tersebut berjalan dengan dukungan dan kerja sama yang terbangun baik. Saya berharap seluruh pihak yang bersinggungan dengan Kamp KTB ini baik panitia, peserta, maupun pendukung agar setiap pribadi dapat bertumbuh menjadi karakter yang serupa dengan Kristus.
Satu hal yang paling saya syukuri adalah kesempatan untuk menempatkan diri sebagai teman bagi rekan-rekan panitia, bukan semata sebagai pengarah. Dalam dinamika tersebut, saya tidak hanya memberi arahan atau pendampingan, tetapi juga belajar banyak hal dari mereka. Saya belajar mendengarkan, belajar melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, dan belajar bahwa pelayanan yang sehat dibangun dari kasih yang mau saling memperhatikan.
Selama kamp berlangsung, saya juga menemukan kembali sisi diri yang selama ini mungkin sudah ada tapi tidak di notice, yaitu kemampuan untuk bersikap santai dan mudah berbaur dengan adik-adik yang saya temui. Awalnya, hal ini sempat menimbulkan kegelisahan dalam pikiran saya. Saya berpikir, dengan peran saya sekarang, seharusnya saya tidak seperti itu. Namun seiring waktu, saya menyadari bahwa sikap santai dan mudah berbaur tersebut adalah bagian dari kepribadian saya yang autentik. Sisi inilah yang justru memudahkan saya mendekati adik-adik.
Meski demikian, saya juga menyadari perlunya pengendalian diri. Ada waktu yang tepat untuk bersikap santai dan akrab, serta ada waktu yang tepat untuk bersikap serius dan tegas. Saya bersyukur atas proses pembentukan karakter ini, karena melalui pengalaman tersebut saya belajar menerima diri sendiri secara utuh sekaligus terus memperbaiki cara saya berelasi dengan orang lain.
Saat ini, setelah kamp usai, saya harus kembali menyusun dan merencanakan, baik yang berkaitan dengan pelayanan maupun KTB. Saya berharap diberikan hikmat agar setiap rencana yang disusun dapat berjalan dengan penuh hikmat dan membawa dampak yang baik.
Khusus untuk KTB yang akan mulai kembali, saya berharap agar setiap pertemuan dapat dipersiapkan dengan matang. Saya juga berharap, sebagai PKTB dapat dengan baik dalam mempersiapkan pertemuan-pertemuan tersebut, sehingga setiap anggota dapat merasakan pertumbuhan dan kebersamaan yang berkualitas.
Pokok Doa :
Sumarni - Staf Pelayanan Pendukung
Bulan April ini terasa cukup padat dan melelahkan, namun ada Allah yang terus menopang, memberi kekuatan, dan memelihara setiap langkah. KTB bersama teman-teman alumni tetap berjalan setiap dua minggu sekali secara hybrid. Kami belajar dari buku PA tentang tokoh perempuan dalam Perjanjian Baru. Dari Elizabeth dan Maria, aku diingatkan bahwa iman tidak dijalani sendirian. Sekalipun dipilih Tuhan, mereka tetap membutuhkan komunitas. Maria pun mencari dan menemukan ruang yang aman, tempat berbagi, saling menguatkan, dan tidak merasa sendiri. Melalui Maria, aku belajar untuk berkata "ya" kepada Tuhan, meski belum memahami semuanya, dan berani menyerahkan masa depan pada kehendak-Nya. Iman Maria menolongku melihat arti ketaatan, keberanian, dan hati yang percaya dalam setiap proses.
Di sisi lain, peran dalam relasi dan fundraising untuk kamp KTB regional menjadi tantangan tersendiri. Bersyukur untuk setiap dukungan dari kakak dan rekan alumni yang Tuhan gerakkan. Di tengah itu, aku juga harus pindahan ke kontrakan sementara karena perbaikan atap rumah. Ada kelegaan saat Tuhan mencukupkan kebutuhan dana kamp, sehingga aku bisa menjalani proses pindahan dengan lebih tenang. Kini, memasuki Mei, aku melangkah dengan hati yang dikuatkan dan siap kembali berkarya.
Pokok doa:
Nindya Elfira - Staf Pelayanan Pendukung
Selama bulan April, saya banyak belajar melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui kebersamaan dan hati yang mau melayani. Dalam rangkaian acara Kamp KTB, saya memang banyak di balik layar sebagai bagian dari penerima dan pengelola dukungan dana dari para donatur. Ada rasa terharu dan syukur melihat begitu banyak alumni yang tetap memiliki hati untuk memberi persembahan dan mendukung pelayanan ini. Dari sana saya melihat banyak tangan yang setia menopang di belakang.
Di tengah hal-hal itu, saya juga mendapat kesempatan menjadi pemimpin PA dalam kamp tersebut. Walaupun hanya sebentar, pengalaman itu membuatku dapat merasakan langsung suasana kebersamaan, pertumbuhan, dan semangat pelayanan yang hadir di dalam kamp. Ada sukacita tersendiri ketika bisa mendampingi dan mengambil bagian dalam proses belajar bersama.
Ke depan, doakan persiapan acara bersama di bulan Juni dalam rangka menyambut HUT ke-50 Perkantas Jogja. Dukungan dan keterlibatan para alumni akan sangat dibutuhkan agar pelayanan ini terus menjadi berkat bagi banyak orang. Semoga setiap proses persiapan dapat berjalan dengan baik dan semakin mempererat kebersamaan lintas generasi dalam pelayanan.
Dapatkan notifikasi konten dan bahan pembinaan terbaru dari Perkantas Yogyakarta langsung ke email kamu.
Tidak ada spam. Berhenti berlangganan kapan saja.